Perlu dibaca tentang Sejarah Tahun Gajah

Tahun-Gajah
sedikit akan menulis tentang sejarah tahun gajah, yang bersumber dari "Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad Saw. LENTERA KEGELAPAN Untuk mengenal pendidik sejati. Cetakan Lirboyo."

Sejarah Tahun Gajah

Mekah sepertinya tidak akan pernah lepas dari peristiwa-peristiwa bersejarah. Pelaksanaan qorban yang hendak di laksanakan oleh "Abdul Muthalib belum juga hilang dari ingatan penduduk mekah.
Pernikahan antara Abdullah dan Aminah juga masih begitu segar dalam ingatan.

Kini sebuah peristiwa besar akan kembali menjadi catatan negeri Ka'bah ini. Beberapa kejadian yang telah menggelinding di sana mungkin hanya membuat mereka cemas ataupun haru. Untuk kali ini, penduduk mekkah benar-benar merasa ketakutan, khawatir dan siap kehilangan sesuatu yang selalu menjadi kebanggaan mereka.

(Tahun Gajah) ..Abrahah, seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan yaman, akan datang untuk meluluhlantakkan Ka'bah.

Selama ini, tidak ada satupun kerajaan-kerajaan yang mempunyai keniatan seperti Abrahah.
Raja-raja jazirah justru sangat menghormati bangunan suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dan Ismail ini. Di dalam, bahkan di kanan-kiri ka'bah banyak berhala yang memang sengaja oleh para jamaah haji sebagai lambang kehormatan dan kekerabatan negeri mereka dengan Mekkah.

Lain dengan Abrahah, mengunjungi mekkah saja belum pernah, sekali datang ia menebar ancaman yang mengerikan. Abrahah benar-benar membuat penduduk Mekkah tegang.

Terlebih dia dikenal sebagai raja yang memiliki kekuatan militer yang tak tertandingi pada zamannya. Begitu ia memerintahkan perang, mulutnya seolah memuntahkan beratus-ratus seekor singa kelaparan yang siap menerkam apapun demi memenuhi perutnya.

Kondisi itu, tentu tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki Mekkah. Beberapa tahun terakhir mereka hampir melupakan seni peperangan. Masyarakatnya telah hidup tentram dan tak pernah kontak senjata dengan suku-suku di luar benteng Mekkah.

Kalau memang ada sengketa, biasanya dapat diatasi dengan cara damai. Hal ini membuat mereka tidak terlalu perhatian dengan pertahanan negara. Layak dengan keadaan mereka yang rapuh dalam segi pertahanan negara, membuat masyarakatnnya panik ketika mendengar ancaman dari Abrahah.

Sebenarnya antara kerajaan Abrahah dengan Mekkah juga tidak pernah terjadi konflik. Hanya saja peristiwa kecil tapi cukup memalukan telah memicu kemarahan raja asal Najasy itu.
Syahdan, ia diutus oleh rajanya yang bernama Ashamah untuk menaklukkan Yaman.

Singkat cerita, Abrahah berhasil menaklukkan Yaman bahkan membangun gereja yang mewah. Awalnya penguasa baru Yaman ini memiliki kepribadian yang cukup luhur, berdisiplin tinggi, serta ulet. Bahkan tercatat sebagai orang yang cukup teguh memegang ajaran agamanya.

seiring waktu, pertahanan dirinya ambruk dan remuk. Kenyataan bahwa tiap tahun penduduk yaman selalu pergi ke mekkah membuat ia terbius sifat materialis. Dia mulai menimbang-ninmbang pemasukan mekkah tiap tahun dari para peziarah.

Pikirannya tidak dapat membayangkan jika peziarah-peziarah itu berduyun-duyun berpaling dari mekkah menuju ke yaman, negeri taklukannya. Berpa besar pemasukan yang akan di dapatkan negerinya jika hal itu benar-benar terjadi. Akhirnya, satu kesimpulan ia tarik dengan rapih sebuah bangunan suci harus di dirikan.

Untuk memenuhi ambisinya, sebuah gereja akhirnya di bangun di daerah Shan,a. Gereja itu dibangun begitu megahnya, bahkan dari waktu ke waktu, di kembangkan. Tujuannya agar penduduk yaman khususnya dan seluruh penghuni jazirah arab berpaling negerinya serta meninggalkan ka,bah. Setelah gereja itu dibangun, dengan banggganya si abrahah mengirimkan surat kepada rajanya yang ada di negeri Najasi. Surat yang dikirimkannya singkat namun begitu jelas menggambarkan ambisinya.

"Sesungguhnya, aku telah mendirikan untuk paduka sebuah gereja yang belum pernah dibangun oleh raja manapun. Gereja itu aku bangun sedemikian rupa, agar orang-orang yang pergi haji ke mekkah mau berpaling menuju ke tempat ibadah yang aku bangun."
Mendengar berita ini, malik bin kinanah salah seorang penduduk mekkah yang kebetulan sedang berada di yaman merasa geram. Dia langsung pergi ke gereja yang direncanakan sebagai saingan ka,bah itu.

Begitu berhasil masuk, ia lantas buang air besar di sana kemudian kotorannya dia oleskan ke tembok gereja. Ketika mengetahui hal ini, abrahah langsung emosi dan kemarahannya tumpah seketika. "Siapa yang berani melakukan hal ini kepadaku, ? " bentaknya pada penjaga yang tak becus menjaga.
Pelakunya adalah seorang laki-laki penduduk baitullah yang mendengar perkataan baginda raja. ".
Jawab mereka tegaang.

Kemarahan abrahah memuncak. Tempat suci yang dibangunnya susah payah telah dihina. Dia telah bersumpah akan membuat perhitungan atas kekurang ajaran lelaki itu. Ka,bah menjadi buruannya untuk menuntaskan perhitungannya. Raja yaman itu begitu bersemangat untuk menghancurkan ka,bah. Secara logika, ketika ia berhasil meruntuhkan bangunan suci orang arab ini, minimal dua keuntungan akan dia dapatkan sekaligus.

Pertama, balas dendamnya tersalurkan.
Kedua, ambisi untuk memalingkan perhatian masyarakat yaman, juga akan mudah di regutnya. Dengan adanya peristiwa pelecehan terhadap gerejanya, ia merasa mendapatkan kesempatan untuk melakukan rencananya.

Tidak akan ada yang berani menyalakan tindakannya, walaupun toh berani, tentu mereka tidak akan sanggup menghadapi kekuatan pasukan perangnya. Diam-diam abrahah merasa diuntungkan oleh keberanian malik bin kinanah yang telah menista gerejanya. Untuk memuluskan rencananya, dia segera melayangkan surat pada raja najasi dengan isi meminta kirim seekor gajah terbesar bernama Mahmud, ( yang tepuji).
Sejarah Tahun Gajah
Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya datang juga gajah kebanggaan negeri najasi itu. Meskipun hanya bermaksud merobohkan ka'bah, abrahah tetap membawa pasukan perangnya termasuk gajah yang baru datang dari negeri asalnya.

Binatang bermata sipit, berkuping lebar itu berjalan pelan ketika bertolak dari Yaman menuju Mekah. Dia berada dibarisan paling depan. Jalannya tenang, memamerkan tubuh gempalnya yang di sanggah empat kaki bulat-bulat seperti pohon korma. Satu-satunya pemandangan tak sedap hanya terlihat di bagian belakang gajah itu.

Ekornya yang tak sebanding dengan tubuhnya, terlihat menjuntai seperti seekor cacing keluar dari tubuh tambunnya. Selain benda yang satu ini, semua terlihat sempurna menambah kegagahan, dan menceritakan gajah yang tidak ada duanya. Kegagahannya tambah terasa denga nama yang disandangnya, "Mahmud" (yang terpuji). Dan binatang itu memang layak di puji atas ke elokannya.

Kepergian Abrahah yang membawa pasukan cukup besar sangat menggemparkan jazirah arab. Mulai dari pasukan berjalan kaki, tentara berkuda, dan penunggang gajah, semua dibawanya. Derap langkah kaki mereka menggetarkan siapapun, meskipun jaraknya masih bermil-mil di depan.

Debu-debu berhamburan seperti asap hutan terbakar, membumbung dari tiap jalan yang di lalui pasukan perang itu. Dzu Nafar, salah seorang penguasa di pinggiran Yaman bersama pasukanya mencoba untuk menghalau Abrahah. Namun usahanya sia-sia belaka, tentaranya berhasil di gebuk pasukan abrahah, dan dia sempat tertawan walaupun akhirnya bisa menyelamatkan diri setelah di beri ampunan oleh Abrahah.

"Wahai raja !, biarkanlah aku hidup karena sesungguhnya membiarkan aku hidup, lebih baik daripada membunuhku !"
Mohon Dhu Nafar.

Mendengar permohonan itu, Abrahah mentertawakannya, meskipun akhirnya mengabulkan permintaan Dzu Nafar.

Di daerah Khats'am, Abrahah kembali mendapatkan perlawanan tak seimbang dari Nufail, bin Habib Al-khats'am dan sebagian penduduk pinggiran. Usaha mereka juga bisa dipatahkan oleh abrahah, dan Nufail berhasil ditangkapnya.

"Wahai raja, sesungguhnya aku bisa menjadi penunjuk jalan bagimu menuju ke daerah arab. Oleh karena itu, biarkanlah aku hidup ".
Bujuk dari Nufail.

Lanjutkan menulis, sejarah tahun gajah.

Keduanya sepakat, Nufail dibiarkan hidup dan sesuai janjinya, ia bersedia menjadi penunjuk jalan.
Ketika sampai di Thaif, Mas,ud ibnu Nu,ais bersama beberapa orang lelaki daerah Tsaqif menemui Abrahah. Ketika itu juga Thaif mempunyai tempat suci yang tak kalah populer. Mungkin kedatangan mereka untuk memastikan pada Abrahah, bahwa ia belum sampai tujuan.

Hal ini perlu dilakukan agar Abrahah tidak keliru merobohkan kuil berhala Latta, bangunan suci mereka. 
Mas,ud bin Nu,ais berkata, 
"Wahai paduka raja, ! Kami adalah hambamu, diantara kita juga tidak pernah ada permusuhan. Silahkan tuan melanjutkan perjalanan, dan kami akan mengirimkan seorang penunjuk".

Mereka lantas mengirimkan budak bernama, Abu Righal. Kini Abrahah mempunyai dua orang penunjuk jalan yang akan mempermudahkan perjalanannya menyusuri padang pasir yang panas, dan gersang.

Namun ketika sampai di daerah Maghmas, budak pemberian Mas,ud bin Nu,ais mati, sehingga Abrahah hanya bisa mengandalkan ketajaman Nufail mengarungi hamparan padang pasir yang seolah tak bertepi itu. Masalah ini tidak mengganggu rencana semula karena jarak Maghmas ke mekkah sudah tidak terlalu jauh. Mereka memutuskan untuk mendirikan kemah di situ, dan mematangkan strategi militernya.

Setelah berjalan beberapa hari, kini kian jauh jarak yang telah mereka tempuh, dan makin dekatlah kota Mekkah. Semangat pasukan Abrahah kembali pulih setelah kelelahan melawan beratnya perjalanan. Beberapa mil lagi mereka akan memasuki kota Mekkah. Di tempat itu, Abrahah melakukan pengecekan kembali terhadap pasukannya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mulai menebarkan terror pada penduduk tanah haram. Pasukan berkuda yang dipimpin Al-aswad bin Mas,ud diperintahkan untuk merampas binatang ternak milik penduduk sekitar Mekkah. Dua ratus seekor onta milik Abdul Muthalib, berhasil mereka rampas. Pada kesempatan yang sama, Abrarah juga mengutus Hanathah bin al-Humairy untuk berunding dengan pemuka Quraish.
Dia berpesan pada juru rundingannya ini.

"Tanyakanlah siapa pembesar Mekkah. Sampaikan pada mereka, bahwasanya kedatanganku bukan untuk berperang, akan tetapi kedatanganku hanya untuk merobohkan Baitullah".

Seperti halnya al-Aswad, begitu amat yang di embannya telah dipahami, Hanatnah dengan gagahnya langsung melesat ke Mekkah. Sedikitpun ia tidak mendapatkan kesulitan untuk menemukan pimpinan kaum Quraisy yang saat itu dipegang oleh Abdul Muthalib. Tanpa panjang lebar, utusan Abrahah ini langsung menuturkan maksud kedatangannya.
"Sesungguhnya raja Abrahah mengutuskan aku untuk mengabarkan bahwa kedatangannya bukan untuk berperang, akan tetapi ia hanya ingin merobohkan baitullah lalu pergi meninggalkan kalian."

Sebagai seorang pemimpin, Abdul Muthalib mencoba untuk tetap tenang menyikapi keadaan. Beliau tidak ingin menambah keresahan warganya yang telah diselimuti ketakutan akan penyerangan besar-besaran yang akan dilakukan Abrahah.

Dengan penuh wibawa, beliau menjawab,
"Tidak ada alasan bagi Abrahah untuk memerangi kami, dan kami juga tidak mempunyai kekuatan untuk mencegah dia datang ke Mekkah untuk tujuan tersebut. Sesungguhnya ini adalah rumah tuhan dan Ibrahim kekasih Allah, maka yang berhak melarangnya adalah Allah Swt. Demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk mencegahnya."

Pembicaraan tidak hanya sampai di situ,
Akan kami sambung tulisan lanjutan kaitan sejarah tahun gajah pada kesempatan lain kali. Insyaallah .