Keinginan untuk memperkenalkan putranya pada sang suami tak tertahankan lagi. Istri mama tidak bahagia jika mampu memberikan hadiah pernikahanny dengan seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengan ayahnya. Tidakkah sang suami tersenyum terhangat setiap kali memandangnya.
Semua itu mungkin tidak akan pernah beliau dapatkan. Namun menantu Abdul Muthalib ini yakin suaminya yang berada di bawah pusara makamnya dapat melihat putra mereka berdua.
Tahun itu, ketika nabi Muhammad Saw. Telah berusia enam tahun, beliau mengajaknya ke Madinah untuk ke makam Ayahandanya. Setelah mendapat izin dari Abdul Muthalib, mereka lantas bergabung dengan rombongan dagang ke utara. Sang kakek tanpa ragu melepaskan mereka berdua karena perjalanan kali ini merupakan satu kesempatan baik untuk memperkenalkan nabi Muhammad Saw.
Kepada keluarga yang berada di Madinah. Di negeri subur utara mekah itulah sang kakek lahir. Dari salah satu suku Khazraj di madinah inilah sayyid Hasyim menyunting seorang dara jelita yang kemudian melahirkan Abdul Muthalib, kakek sang nabi.
Dengan membawa dua ekor unta dan ditemani seorang budak bernama Ummu Aiman, perlahan-lahan mereka bergerak ke utara bersama rombongan dagang Quraisy menuju Syiria. Karavan bergerak anggun dan sekilas nampak seperti kampung berjalan.
Inilah pengalaman pertama nabi Muhammad Saw. melihat perjalanan para pedagang menyusuri hamparan padang pasir. Rapi, dan nampak selalu siaga menghadapi segala hal yang mungkin akan mereka hadapi di tengah perjalanan.
Sesampainya di madinah, Aminah memisahkan diri untuk menemui keluarga dan ziarah ke makam suaminya di Nabighah. Kunjungan Aminah ke Madinah membawa kesan tersendiri bagi Nabi Muhammad Saw. Beliau sangat menikmati pertemuan dengan keluarga barunya yang selama ini belum pernah ditemuinya.
Sedikitpun Nabi Muhammad Saw. tidak merasa canggung untuk bergabung bermain dengan mereka. Selama di sana, beberapa teman sebayanya sering mengajaknya berenang di sebuah sungai yang berada di dekat makan 'Abdullah'. Sementara putranya menikmati ke asyikan permainannya bersama Ummu Aiman dan teman-temannya, dan Siti Aminah menghabiskan waktunya di makan suaminya. Hampir sebulan penuh beliau selalu berkunjung ke makam Abdullah untuk melantunkan doa.
